Recent Updates RSS Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • dzyemtri 3:36 pm pada 28 June 2011 Permalink | Balas
    Tags: bingung   

    telur kucing menetas di teras koran bekas..
    suara pesing membekas di muka genting atas..
    rumah deras terguyur api panas..
    tuangkan kulkas ke dalam gelas..
    tanam beras tanpa seberkas alas..

     
  • dzyemtri 12:57 pm pada 11 March 2011 Permalink | Balas
    Tags: hanya status   

    aku pergi, entah kapan kan kembali..

     
  • dzyemtri 11:04 am pada 28 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: , cerpen   

    Ingatkanlah aku, mimpi
    by Dzyemtri

    “Pikirkan pikiranmu,” ucap hatiku. Dunia telah memeras keringatmu hingga kering, dunia telah mengisi otakmu dengan bermacam persoalan. Kini tidurlah, kini tidurlah, tidurlah dalam dekap senja, kala jingga berkuasa. Kulihat matamu sayu tak bertenaga. Kini tidurlah.

    Andai aku bisa sekejap saja terpejam, menghapus persoalan, 5 menit cukuplah. Namun, aku tak bisa, aku tak bisa. Tak bisa berhenti menatapnya hingga ia hilang, terganti. Ragaku akan tetap berada di sini menyasaksikan sampai tiba saatnya mega merah berkuasa menyuruhku segera turun dari bukit ini dan kembali kepersujudan. Tempat hinggap semua harap, tenteram tenang meresap tak hanya sekejap.

    Waktu beroda terus berputar hingga berpendar. Selepas senja tergantikan, dan kini giliran mega merah turun dari tempat duduknya, ia akan kembali esok di waktu yang hampir sama seperti sediakala. Akhirnya, langit gelap mulai menyapaku, ia suguhkan bintang dan bulan penerang walau masih petang. Kulihat ia dari celah jendela kaca dengan mata yang sama.

    Hai, langit muda malam, maafkan aku tak dapat berlama-lama menyaksikan pertunjukanmu, hawa malam yang masih terasa hangat telah merayuku. Dunia telah memeras keringatmu hingga kering, dunia telah mengisi otakmu dengan bermacam persoalan. Kini tidurlah, kini tidurlah, tidurlah kala lelah berkuasa. Kulihat matamu terlalu tak bertenaga. Kini tidurlah. “Pikirkanlah pikiranmu,” ujar hatiku.

    Sebenarnya, aku sama sekali tak pernah menjadwalkan untuk tertidur kapan, larut waktu, awal waktu atau entahlah, kapanpun. Mungkin ini saatnya untuk terbang ke kehidupan bawah sadar alam pikiran di malam termuda, sejenak mengistirahatkan raga yang serasa terinjak kepala-kepala, entah kepala siapa.

    Pesawat kertas telah kunaiki, tibalah aku juga kawanku di sana untuk memulai perjalanan yang kulalui dengan senyuman, berjalan kaki menuju kota kembang tanpa roda dua kunaiki, tanpa roda empat kutunggangi. Bandung jauh, Bandung dekat, relatif, dari sudut mana kau memandangnya. Tak terasa, harumnya sudah tercium, harum asap kendaraan.

    “Nenek, kakek, kami tiba,” kata kawanku di tengah perjalanan. Sejenak ia tertegun, terdiam, kakinya berhenti melangkah, jari telunjuknya ia tempelkan di dahinya, “aku baru sadar, ada yang tertinggal,” lanjutnya lagi.

    Lantas ia memintaku, “Kang, mohon ambilkan sebuah cinta yang diminta kakek-nenekku dari ibu-bapakku.”

    “Sebuah cinta?” aku heran. “Kurang jelas, kawan.”

    “Ya, katakan saja pada ibu-bapakku ‘mana sebuah cinta untuk kakek-nenek?’, katakan saja begitu.”

    “Baiklah, kawan.”

    “Sebentar, tunggu dulu.”

    “Eiy kawan, turunkanlah telunjukmu dari dahimu. Apakah kamu masih berpikir?”

    “Eh, iya, keasikan, kelupaan.”

    Dua orang pemuda menghampiri kami, aku sama sekali tak mengenal mereka, namun ia mengenalnya. “Akang-akang, ajak kawanku ini ke rumahku untuk mengambilkan sebuah cinta,” ujarnya.

    “Yuk, cepet naik,” tanpa basa-basi lagi.

    “Baiklah. Baiklah, aku pergi kawan.”

    “Aku akan tetap menunggu di sini,” ucapnya.

    ~~~

    (masih bersambung, masih mencari benang2 penghubung)

    _dzyemtri
    alam pikiran
    01.02.2011

     
  • dzyemtri 7:16 pm pada 26 February 2011 Permalink | Balas
    Tags: selang-seling   

    Tahukah kamu tentang PLTA, PLTU, PLTD, PLTN. Singkatan2 seperti itu pastilah sudah kita kenal. Tahukah kamu soal PLTH alias PLTP? So, mari kita bahas.

    Saking meningkatnya kebutuhan energi khususnya listrik, pemerintah harus berpikir cerdas dalam mengupayakan sumber energi baru. Memang ada usulan dari para tetangga sebelah buat bikin PLTN, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Namun, hal ini menuai tentangan dari tetangga dua belah, terlalu beresiko membangun PLTN, perlu penanganan dan dana yang cukup tinggi untuk pemeliharaannya.

    Dalam kebimbangan menemukan tenaga baru, ada tercetuslah usulan dari tetangga tiga belah. Mereka mengusulkan untuk membangun saja PLTH atau PLTP alias Pembangkit Listrik Tenaga Halilintar/Petir. Bukan tanpa alasan, mereka usul seperti itu. Ide itu muncul saat listrik sering terjadi pemadaman, apalagi jika hujan deras tiap malam. Karenanya, ibu2 jadi geram nggak bisa liat sinetron, bapak2 jadi ketinggalan pertandingan bola, begitu pula pemuda dan pemudi yang ketinggalan OVJ dan SMASH.

    Berdasarkan pengamatan tetangga tiga belah, hujan deras selalu saja terjadi tiap sore dan malam disertai petir dan berakibat pada terputusnya aliran listrik. Dari pengalaman inilah mereka mengajukan permohonan untuk dibuatkan PLTP. Namun, sayangnya hal ini masih memiliki kendala yaitu kurangnya minat masyarakat mengeluti pekerjaan menangkap petir, hmm.

     
  • dzyemtri 7:17 pm pada 25 December 2010 Permalink | Balas  

    Ubah

    kata yang teramat sulit tuk dilakukan
    terlebih kebaikan
    pastinya enggan
    taklah seperti mengucapnya
    sebegitu mudahnya

    ubah, kata itu ubah
    diubah, terubah
    mengubah, berubah

    dapatkah laku ini diubah
    mampukah diri ini berubah
    sudikah rasa ini terubah
    hingga bisa mengubah

    _dz
    kamar 2×3 meter

     
  • dzyemtri 1:06 pm pada 25 December 2010 Permalink | Balas  

    Hanya ingin ngepost sebuah kata. Apa gerangan kata itu?

    Hanyalah “testing”

     
  • dzyemtri 9:55 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Pandang-pandang tersadar
    Duhai ilalang senja, bolehkah ku ikut menari gerakkan jentik jemari
    Wahai burung berparuh mungil, bolehkah ku ikut menyanyi dendangkan nada berseri
    Pandang-pandang tersadar
    Dedaun nyiur melambai. Angin santai berbisik mendesir pasir terpeluk ombak. Hati menenang tiada terganti
    Pandang-pandang tersadar
    Senja-senja menjingga. Mentari mengintip bumi di balik senyum awan menyimpul. Napas melega tanpa terhalang
    Pandang-pandang tersadar. Saksikan ayat-ayat tersirat pengingat. Tasbih-tasbih tersebut terucapkan. Subhanallah..

     
    • taman lan9it 11:10 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas

      ilalang ingatkan aku tentang seseorang……

      Tolong diperpanjang lagi puisinya…..

      • dzyemtri muharram 3:56 am pada 15 September 2010 Permalink | Balas

        thankz.. PR lagi nih… ^^

    • FITE 12:05 pm pada 15 September 2010 Permalink | Balas

      good job, i like it

    • dzyemtri muharram 11:54 pm pada 15 September 2010 Permalink | Balas

      makasih kalo gitu..

  • dzyemtri 5:21 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Jeritan-jeritan sayang, menjerit melayang, tinggalkan layang pandang. Menari-nari udara senja bagai alir angin bergemuruh, merapuh rasa yang tak tertempuh. Helaian daun berguguran mencari-cari tempat tuk segera mendarat dan terinjak, terabaikan.
    Jeritan-jeritan sayang, peluklah aku, dekaplah aku. Kurasa takut, di sini penuh gerak berputus asa.

     
    • insan lemah 9:27 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas

      pengalaman pribadikah?

    • dzyemtri muharram 10:03 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas

      mungkin juga [sebagian]…

      • suryabudi, imam 12:12 am pada 1 Oktober 2010 Permalink | Balas

        hehehe jadi ngebayangin

  • dzyemtri 5:20 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Putih, gula-gula tertumpahkan. Manis menetes terkecap indra perasa. Senyuman indah, manis seperti gula, memanah rasa. Hati ini bertanya-tanya terbuatnya. Siapakah pemilik senyuman itu? Siapakah? Teruntuk siapakah senyum manis itu? Untuk siapakah?
    Siapakah? Tiada yang tahu.
    Untuk siapakah? Mungkin untukmu, pun untukku agar ikut tersenyum sejenak lupakan sedih yang terlanjur terseduh, menghilang gundah yang tak jua berubah.

     
  • dzyemtri 5:20 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas
    Tags:   

    Perbaharuilah diri ini dahulu agar dapat merubah diri sebagian orang-orang yang lain.
    Disadari atau tak disadari. Hidup ini adalah saling mempengaruhi.
    Dengan atau tanpa tanya. Siapa yang mempengaruhi, siapa yang dipengaruhi.
    Perbaharuilah diri ini dahulu agar dapat merubah diri sebagian orang-orang yang lain.

     
    • Devi 5:44 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas

      Ya,, karena mana mungkin mengajarkan berenang padahal kita tenggelam dalam air

      • dzyemtri muharram 10:08 pm pada 14 September 2010 Permalink | Balas

        good, perumpamaannya..

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.